5.6.14

Pedih Lukaku (Part 1)

  No comments    


Rintikan hujan masih membasahi bumi, aku terbangun didalam sebuah kamar yang asing bagiku. Tubuhku serasa masih merasakan sakit akibat pukulan, memar-memar dan luka jahitan berangsur membaik. Tapi, luka disekujur tubuhku tidak sebanding dengan trauma yang aku rasakan. Kehidupanku dengan dunia luar kini berbeda, aku terlalu takut untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar meskipun dengan orang yang berasal dari negaraku. Kata-kata manis, ajakkan mereka membuatku memilih untuk menghindari mereka. Perubahan ini sungguh cepat terjadi, sehingga aku tidak bisa mengenali diriku kembali. 

Aku mencoba sekuat tenaga untuk bangkit dari tempat tidurku, mereka teman-teman sekamar ku yang mungkin bernasib sama dengan ku mencoba untuk membantuku, tapi aku enggan dengan bantuan mereka. Sebelum aku sampai ke kamar mandi untuk membersihkan diri, aku melihat diriku di cermin, yah..... diriku yang sekarang sudah tak ku kenal lagi wujudnya, diriku yang sudah hancur.

9 bulan sebelumnya

Namaku Erika, aku baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas. Aku dan keluarga berasal dari sebuah keluarga tani di daerah perbatasan wilayah Indonesia dengan negara tetangga. Kami hidup serba kekurangan, namun kami tetap bersyukur apa pun yang kami miliki, kami tetap menjadi keluarga yang utuh dan tidak pernah sedikitpun melanggar aturan agama. Aku adalah anak pertama di keluargaku dan mempunyai 2 orang adik yang juga masih duduk dibangku sekolah. kami bersyukur karena bersekolah pun kami masih mendapatkan beasiswa untuk ketingkat selanjutnya. langkah ku untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi terhenti, selain karena alasan biaya aku juga tidak ingin membebankan kedua orang tua ku.

Awalnya setelah aku lulus aku berencana untuk membantu kedua orang tuaku saja di kebun kami. Meskipun hasilnya sedikit paling tidak beban pekerjaan mereka sedikit terkurangi dengan bantuanku. Sebulan setelah aku lulus, tiba-tiba saja kami didatangi oleh seorang wanita paruh baya yang menawarkan jasa untuk bekerja diluar negeri. Wanita itu menawarkan kepadaku sebuah pekerjaan sebagai seorang buruh pabrik di negara tetangga, dengan tawaran gaji yang berkisar 2 s/d 3 juta perbulannya. Tentu saja tawaran itu sangat menggiurkan berkali-kali lipat dengan pendapatan ayah dan ibu ku jika hanya mengandalkan dari hasil tani kami.

Awalnya ibu menolak, ibu takut jika aku bekerja di negara tetangga tidak sesuai dengan harapan. Maklum saja dari beberapa pemberitaan banyak sekali pekerja Indonesia yang mendapat masalah disana dan ibu takut aku akan bernasib sama. Awalnya aku ragu ingin pergi dan tidak ingin meninggalkan keluarga ku, tapi aku berpikir jika aku pergi kesana aku tidak hanya memperbaiki ekonomi keluarga tetapi juga bisa membangun rumah yang layak bagi keluarga kami. Seminggu berlalu, wanita paruh baya tersebut pun datang kembali, wanita yang disebut dengan Bu Eni itu pun menawarkan pekerjaan yang sama sembari membujuk ibu ku untuk mengizinkan ku bekerja di negara tetangga. Namun ibu ku bersih keras menolaknya.

Aku berusaha untuk membujuk ibu agar mengizinkanku pergi, aku berjanji kepadanya akan sesering mungkin pulang mengunjungi keluarga, aku juga mengatakan kepada ibu kalau aku bekerja sebagai buruh pabrik maka aku mampu untuk memperbaiki ekonomi keluarga serta dapat membangun rumah yang layak bagi keluarga kami. Ibu menangis mendengar semua perkataanku, baginya hidup bersama dengan keluarga yang utuh sudah lebih dari cukup, apa pun yang kami miliki saat ini adalah sebuah anugerah dan ia tidak akan menyia-nyiakannya. Aku terus berusaha meyakinkan ibu, dari hari ke hari, sehingga entah berapa kali Bu Eni menghampiri kami dan memintaku untuk ikut bersamanya.

8 hari setelah terakhir kali Bu Eni datang ke keluarga kami, ibu akhirnya mengizinkan aku untuk bekerja di negara tetangga dan ikut Bu Eni. Mendengar hal tersebut, aku pun senang. Dalam angan-anganku sudah terbayang bagaimana nantinya aku bisa sukses membanggakan kedua orang tua ku dan keluargaku. Aku pun menghubungi Bu Eni yang ku tau sebagai sponsor ku untuk bekerja di negara tetangga. Aku tahu ibu masih sedih dan sering menangis disaat sebelum keberangkatanku, tapi aku harus tetap berangkat demi memperbaiki ekonomi keluargaku. Oleh Bu Eni, aku disiapkan pembuatan dokumen untuk keberangkatan ke luar negeri tanpa dipungut biaya apa pun termasuk biaya transportasi. Bu Eni berkata kepada ku semua biaya itu ditanggung olehnya, karena ia berniat baik untuk membantu ku sehingga tidak ingin membebankan biaya sedikit pun ke keluargaku, aku sangat berterima kasih sekali dengan bantuan Bu Eni, tidak ku sangka ia sangat baik terhadap ku.

8 bulan sebelumnya

Hari keberangkatan ku pun telah tiba, ibu telah mempersiapkan semua barang-barang bawaan ku. Aku datang memeluk ibu dengan erat, hingga tak terasa aku telah menitihkan air mata ku. Ibu menangis dengan terisak sambil memohon kepada ku untuk mengurungkan niat pergi bekerja ke negara tetangga, aku pun kembali mengingatkan ibu akan janji-janji ku kepadanya dan keluarga ku

"ibu, erika pergi hanya sebentar, erika janji akan sesering mungkin pulang bertemu keluarga" kata ku sambil menitihkan air mata
"ibu, hanya tidak ingin terjadi sesuatu hal terhadapmu nak"  perkataan ibu sambil menangis.
"tidak akan terjadi apa-apa dengan erika bu, bu eni akan menjaga erika dengan baik".

ibu pun melepaskan pelukkannya, entah bagaimana pelukan ibu saat itu terasa hangat sekali, seolah aku enggan untuk melepasnya dan ingin terus berada dipelukkan ibu. Bu Eni telah siap menungguku di depan rumah dengan menggunakan sebuah van yang didalamnya juga berisi beberapa orang. Aku berpamitan dengan semua keluarga ku yang mengantar ku sampai kedepan rumah, kecuali ibu. Mungkin ibu tidak sanggup untuk melihat kepergianku sehingga ia lebih memilih untuk berdiam diri didalam rumah.

Dalam perjalanan, aku terus berpikir tentang bagaimana keadaan ibu setelah ku tinggalkan, apakah ia akan baik-baik saja? Aku menyadari didalam van kami terdapat beberapa orang lainnya, namun anehnya selama perjalanan tersebut tidak seorang pun yang memulai pembicaraan. Aku melihat ke sekelilingku, masing-masing mereka membawa barang-barang seolah mereka akan berpergian jauh dan lama, aku memberanikan diri untuk melempar senyum ke seorang wanita yang duduk tepat di sebelahku

"permisi mbak, baru pulang cuti mbak?" tanyaku
"oh, nggak baru aja mau masuk kerja" jawabnya

Mendengar jawaban wanita tersebut aku pun berpikir mungkin mereka semua ini juga sama dengan ku.

"erika, bangun.. bangun.., ayo cepat pindah mobil satu lagi" bu eni membangunkan ku.

Masih setengah sadar karena aku tertidur dalam perjalanan, sambil bergegas mengambil semua barangku untuk segara dipindahkan ke mobil yang satu lagi. Mobil itu agak kecil lebih tepatnya mobil pribadi. Aku tidak tahu pasti dimana tepatnya daerah ini, semua dalam keadaan gelap karena memang saat itu masih tengah malam, aku pun memberanikan diri bertanya kepada bu eni.

"bu eni, ini dimana bu? kok kami disuruh pindah?"
"udah kamu jangan banyak tanya, ikutin aja, udah kamu cepat masuk" kata bu eni.

Perkataan bu eni membuat ku takut, karena bu eni yang ku kenal tidak pernah berkata kasar seperti ini. Semua orang yang berada didalam mobil tadi pun tidak berkata sepatah kata pun.

"kalian ikut dengan pak deni, semua paspor kalian sudah saya berikan ke dia, saya hanya mengantar kalian sampai disini" perintah bu eni.
"lho bu, kok sampai disini saja, katanya ibu akan mengantarkan sampai ke tempat kerja bu?" tanyaku.
"kamu ikut dengan pak deni, nanti semua dia yang akan atur disana" jawab bu eni membentakku.
"klo gitu, saya ikut bu eni pulang saja saya gak mau ikut orang lain" pinta ku sambil menahan tangis.
"kamu mau buat saya rugi? saya sudah habis berapa banyak buat kamu?" teriak bu eni sambil menutup pintu mobil dan menyuruh pak deni untuk jalan.

Saya tak tahan untuk tidak menangis, dengan ketakutan saya hanya bisa menangis dan memeluk tas bawaan saya. Tiba-tiba saja wanita yang sempat berbicara dengan saya berkata

"sudah dek, jangan menangis, saya tau kamu pasti ketakutan, tapi tenang aja disini kan ada saya"
"iya mbak, saya takut kenapa kok begini prosesnya kita kayak masuk secara ilegal"
"ya udah kamu tenang aja, ada kami semua, kita akan selalu sama-sama"

Mbak aya, itu nama panggilannya yang kutau saat teman-teman yang lain memanggil namanya. Dengan adanya mbak aya, setidaknya membuatku tenang karena ia selalu melindungiku, saat-saat itu aku merasa ingin sekali pulang dan memeluk ibu, tapi kalau pun aku bisa pulang aku tidak tau berada dimana.

"mbak, sebenarnya kita berada dimana"
"kita sedang melewati perbatasan dek"

"Perbatasan" kata itu seolah membuat ku semakin jauh dari rumah. Aku mulai menyesali keputusan ku, setidaknya apa bila aku berada dirumah aku akan merasa lebih tenang, tidak seperti saat ini. "Ibu maafkan aku, aku ingin memelukmu" gumamku dalam hati. Aku berusaha terus untuk tidak larut dalam kesedihan dan mencoba menenangkan diri, tapi semua itu membuat ku pusing.

Saat mobil berhenti disebuah rumah yang terletak agak jauh dari pusat kota, mbak aya pun mencoba untuk membangunkanku.

"erika bangun, kita sudah sampai"
"dimana ini mbak?"
"kita sudah tidak di Indonesia lagi"

Kata-kata mbak aya membuat ku merasa kosong. Aku sudah tidak di Indonesia lagi, berarti setelah ini aku mulai berdiri dengan kaki ku sendiri, apa pun keputusanku saat ini akan berdampak bagi keluargaku kedepannya. Kini aku berdiri didepan rumah yang tidak aku kenal sama sekali, kami membawa semua barang-barang kami masuk kedalam, seperti arahan pak deni. Aku terkejut, saat aku masuk ke dalam rumah tersebut rupanya tidak hanya kami yang akan menghuni rumah tersebut tetapi sudah ada beberapa orang yang ada didalamnya. Mereka tampak takut dan terlihat lusuh.

"pak deni, ini tempat apa? kenapa banyak sekali orang disini?"
"diam kamu jangan banyak tanya, sudah masuk saja, wanita diruang sebelah sana" perintah pak deni.

Belum habis pertanyaan yang ingin ku tanyakan ke pak deni, tiba-tiba saja mbak aya menarikku dan berkata:
"sudah dek, ikut saja"

Apa yang baru saja aku lihat tadi itu sungguh mengerikan, aku melihat beberapa orang yang menumpuk menjadi satu ruangan tanpa fentilasi udara, bahkan tempat untuk membuang hajat pun menjadi satu dalam ruangan tersebut. Dengan mata terbelalak dan tidak yakin dengan apa yang baru saja ku lihat, aku memberanikan diri kembali untuk menoleh ke belakang, namun tiba-tiba saja pak deni mendorongku dengan kuat sampai aku jatuh tersungkur.

"mau ngapain lagi kamu liat-liat kebelakang? jalan saja dan tidak usah banyak tanya, kalau mau selamat ikuti apa kata saya, dan jangan banyak tanya!"

Mbak aya membantuku untuk bangun, dan menghantar ketempat yang ia minta. Ruang kosong, hanya ada satu keran air, tanpa kasur, karpet, dan juga jendela tidak ku sangka masih bertahan 6 orang wanita sebelum kami didalamnya. Aku menggenggam erat tangan mbak aya, mbak aya pun membalas genggamanku seolah ia merasakan ketakutan ku.

"mbak, aku takut"
"sabar dek, kita akan segera keluar dari sini"

Pak deni menyuruh kami untuk membuka barang bawaan kami, ia menggeledah semua tas-tas kami dan mengambil semua barang-barang berharga, uang, HP, kartu identitas kami dan hanya menyisakan beberapa helai pakaian saja.

"pak mau diapakan semua barang-barang itu" tanya mbak aya.
"diam kamu!"

Pak deni kemudian mengunci kami didalam ruangan tersebut. Kami hanya bisa terdiam dan tidak tau akan berbuat apa, ingin rasanya melarikan diri dari tempat ini, tapi kami sendiri tidak tau ini dimana terlebih lagi semua kartu identitas kami disita oleh pak deni. Aku melihat ke sekelilingku, 6 orang wanita memandang kami dengan tatapan nelangsa, seolah hanya kepedihan yang terpancar dari mata mereka. Aku semakin lemas dan tidak bergairah untuk menggapai impian ku serta janji-janjiku kepada ibu. Ibu, tiba-tiba saja merasakan kehadiranmu disini, ibu aku ingin pulang.


6.3.14

Almost lover

  No comments    
categories: 
Let's sing a song

"Almost Lover"

Your fingertips across my skin
The palm trees swaying in the wind
Images

You sang me Spanish lullabies
The sweetest sadness in your eyes
Clever trick

I never want to see you unhappy
I thought you'd want the same for me

Goodbye, my almost lover
Goodbye, my hopeless dream
I'm trying not to think about you
Can't you just let me be?
So long, my luckless romance
My back is turned on you
I should've known you'd bring me heartache
Almost lovers always do

We walked along a crowded street
You took my hand and danced with me
Images

And when you left you kissed my lips
You told me you'd never ever forget these images, no

I never want to see you unhappy
I thought you'd want the same for me

Goodbye, my almost lover
Goodbye, my hopeless dream
I'm trying not to think about you
Can't you just let me be?
So long, my luckless romance
My back is turned on you
I should've known you'd bring me heartache
Almost lovers always do

I cannot go to the ocean
I cannot drive the streets at night
I cannot wake up in the morning
Without you on my mind
So you're gone and I'm haunted
And I bet you are just fine
Did I make it that easy
To walk right in and out of my life?

Goodbye, my almost lover
Goodbye, my hopeless dream
I'm trying not to think about you
Can't you just let me be?
So long, my luckless romance
My back is turned on you
I should've known you'd bring me heartache
Almost lovers always do




Sumber: 
Courtesy of Youtube
- Www.azlyrics.com

18.1.14

Tradisi Pernikahan Adat Masyarakat Tionghoa

  No comments    
categories: ,
   


 Pada era modern ini, sebagian besar dari masyarakat Tionghoa masih melestarikan beberapa tradisi dan budaya mereka. Tradisi dan budaya tersebut secara turun-menurun diwariskan dari leluhur mereka. Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas salah satu tradisi masyarakat Tionghoa yang masih dilestarikan sampai saat ini, yaitu adat pernikahan masyarakat Tionghoa.

     Pada dasarnya, disetiap tradisi pernikahan memiliki tahapan-tahapan pernikahan secara adat yang hampir sama. Misalnya saja, ada acara lamaran, seserahan, pesta bujang, resepsi pernikahan dan lain sebagainya. Begitu juga dengan adat pernikahan masyarakat Tionghoa. Namun, ada yang berbeda dari adat pernikahan masyarakat Tionghoa ini seperti isi dalam seserahan (sangjit) yang biasa dilakukan setelah acara lamaran. Dalam penenutuan jumlah baki seserahan biasanya ditentukan pada saat malam lamaran, jumlah baki dalam tradisi Tionghoa ini biasanya berjumlah 6/8. Sangjit ini disediakan oleh kedua mempelai pengantin, sangjit yang disediakan oleh mempelai wanita bersifat sangjit balasan dari sangjit mempelai pria. Isi baki sangjit mempelai pria tersebut antara lain:
  • Baki 1 : Uang, yang terdiri dari uang sangjit (uang pernikahan) dan uang susu (uang untuk menggantikan jasa ibu yang membesarkan anaknya). Sepasang lilin merah dan perhiasan.
  • Baki 2 : Pakaian dan perlengkapan
  • Baki 3 : Pakaian, sepatu dan perlengkapan lainnya untuk mempelai wanita
  • Baki 4 : Kue-kue
  • Baki 5 : Gula-gula dan manisan
  • Baki 6 : Buah-buahan
  • Baki 7 : Makanan belum jadi
  • Baki 8 : Anggur dan arak
Baki balasan yang disiapkan oleh mempelai wanita tidak jauh berbeda dengan isi baki sangjit mempelai pria, seperti:
  • Baki 1 : Uang, yang terdiri dari uang sangjit (uang pernikahan, boleh tidak diterima atau hanya diterima setengahnya) dan uang susu (uang untuk menggantikan jasa ibu yang membesarkan anaknya) dan sepasang lilin merah.
  • Baki 2 : Sprei dan perlengkapan kamar pengantin
  • Baki 3 : Pakaian, sepatu dan perlengkapan lainnya untuk mempelai pria
  • Baki 4 : Kue-kue
  • Baki 5 : Gula-gula dan manisan
  • Baki 6 : Buah-buahan
  • Baki 7 : Makanan matang
  • Baki 8 : Anggur dan arak
     Setelah acara lamaran dan seserahan, kemudian ada acara pesta bujang. Dalam adat pernikahan masyarakat Tionghoa acara pesta bujang ini disajikan dengan cara yang unik dan memiliki makna yang cukup mendalam. Pesta bujang ini diadakan dirumah kedua mempelai pengantin. Dirumah mempelai wanita, mempelai wanita duduk diatas tampah/ karpet bundar dan dihadapannya ada sebuah gentong (baskom sedang) yang berisi: beras, simbol agama, cermin, benang 7 warna, pedang/ pisau, pelita, gunting, timbangan dan sisir. Makna dari isi gentong tersebut adalah:
  • Beras : Kesejahteraan hidup, kemakmuran dan juga sebagai simbol seorang istri harus menyiapkan makanan untuk keluarga.
  • Simbol agama : Istri harus taat pada agama, mendidik anak menjadi sholeh dan sholehah
  • Cermin : Setiap saat intropeksi diri sendiri
  • Benang : Kewajiban memelihara pakaian
  • Pedang/ pisau : Untuk suami agar menjadi ksatria, melindungi keluarga dan juga harga diri
  • Gunting : Sebagai istri harus membantu suami memecahkan masalah
  • Pelita : Terang lahir bathin dan terhindar dari perselingkuhan
  • Timbangan : Agar hidup adil
  • Sisir : Agar kehidupan dalam keluarga menjadi rapi
Kalau ada saudara yang lebih tua belum menikah biasanya kedua mempelai pengantin akan meminta izin terlebih dahulu dengan memberikan pakaian dan juga gunting. Gunting yang diberikan bermaksud untuk menggunting pita yang terlebih dahulu disiapkan didepan pintu kamar sang kakak agar dimudahkan jodohnya. Disaat yang bersamaan dirumah mempelai pria, dilaksanakan juga acara pasang sprei dikamar pengantin yang biasanya dilakukannya oleh ibu-ibu yang memiliki kehidupan keluarga yang suskes. Kemudian, disuruh pula sepasang anak kecil, laki-laki dan perempuan yang berumur sekitar 2-5 tahun untuk melompat-lompat diatas tempat tidur pengantin, hal ini bermakna agar kedua mempelai cepat mendapat momongan.

     Dalam pelaksanaan acara pernikahan, dilaksanankan juga upacara minum teh saat mempelai pria beserta kerabatnya ingin menjemput mempelai wanita dikediaman mempelai wanita. Pada saat upacara minum teh ini awalnya mempelai pria datang dengan dipayungi payung berwarna merah, kemudian pihak keluarga mempelai wanita menyambut mempelai pria. Mempelai pria memberikan hormat terlebih dahulu kepada pihak keluarga mempelai wanita dalam kesempatan ini  disetiap penghormatan diberikan angpao bisa berupa uang maupun emas dan permata, kemudian mempelai wanita datang dengan membawa nampan dan mempelai pria menyuguhkan teh.

     Setelah upacara minum teh dikediaman mempelai wanita, dilaksanakan juga upacara minum teh dikediaman mempelai pria. Kedua mempelai dipayungi payung merah sampai dikediaman mempelai pria, kemudian pihak keluarga mempelai pria menyambut kedua mempelai dengan menyawer dengan uang yang sudah dicampur dengan beras yang berwarna kuning, hal ini bertujuan untuk agar kehidupan pernikahan kedua mempelai diberikan rizki yang berlimpah. Kemudian mempelai pria membawa nampan dan mempelai wanita yang menyuguhkan teh.

     Dalam tradisi ini acara resepsi tidak diadakan dirumah mempelai wanita, melainkan dirumah mempelai pria ataupun gedung. Setelah acara pernikahan selesai, ada tradisi yang lebih unik lagi. Kedua mempelai pengantin bersama dengan teman dan sahabat pergi kekamar pengantin, kemudian untuk "mengusir" teman dan sahabat tersebut kedua mempelai memberikan mereka angpao. ^^

4.1.14

Lagu Anak era 90-an

  No comments    
categories: , ,
               

  

Suatu ketika ditengah masa santai ku, sambil menghabiskan sarapan pagi, aku menonton acara TV yang kebetulan waktu itu meliput aktivitas anak kecil. Untunglah anak tersebut adalah anak dari seorang Public Figure sehingga iya tidak canggung lagi berhadapan dengan beberapa kamera wartawan yg meliputnya. Anak tersebut dengan percaya dirinya menyanyi diatas panggung sambil menari tarian ala goyang pinggul yang ia ciptakan sendiri. Mungkin tidak semua anak mendapat keberanian yang sama dengan anak tersebut, menyanyi dan menari tanpa canggungnya didepan beberapa kamera wartawan.

“punya bakat seni, seperti orang tuanya” gumamku dalam hati.

    Tapi ada pemandangan yang berbeda. Anak sekecil itu menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang entah bagaimana ia bisa menghafal lirik tersebut. Bisa dipastikan ia tidak memahami isi dari lirik lagu yang ia nyanyikan. Suatu hal yang berbeda dengan beberapa tahun kebelakang, tepatnya masa kecilku era tahun 90an. Masa-masa itu banyak sekali pencipta lagu anak-anak dan juga artis cilik. Yah, kita sebut saja beberapa diantara pencipta lagu anak yang popular dimasa itu, seperti; At Mahmud, Ibu Sud dan Pak Kasur. Yang menarik adalah mereka menciptakan lagu anak dengan lirik yang sederhana didengar tetapi, memiliki makna dan filosofi yang mendalam mengenai kehidupan sehari-hari dan juga Indonesia.

    Tidak banyak yang menyadari bahwa amat bermaknanya lirik dari lagu anak karya beliau yang telah dikemas dengan sedemikian rupa tersebut. Sebuah pemandangan yang berbeda dimasa saat ini dimana kita semua bisa dikatakan kehilangan pencipta lagu anak. Ada baik kalau lagu-lagu anak terdahulu kembali dikemas dalam bentuk modern sehingga lagu yang bertemakan "Bermain sambil Belajar" ini dapat dinyanyikan kembali oleh anak-anak masa kini.



Apa ada yang tidak sependapat dengan saya? Mari kita sama-sama mendengar beberapa lagu karya beliau………..



    

Pak Nelayan
Tak kan ada ikan gurih di meja makan
Tanpa ada jerih payah nelayan
Daging ikan sumber gizi bermutu tinggi
Diperlukan semua manusia
Tiap malam mengembara di lautan
Ombak badai menghadang dan menerjang
Pak Nelayan tak gentar dalam dharmanya
Demi kita yang membutuhkan pangan



Peramah dan Sopan - Pak Dal 
l



Pergi Belajar - Ibu Sud



Pemandangan - At Mahmud



Sekuntum Mawar - At Mahmud


Sembari menulis Blog ini saya teringat dengan satu buah lagu anak yang sangat epic  untuk didengar...... 




Sumber: Courtesy of Youtube

2.1.14

Keluarga dalam Masyarakat China

  No comments    
categories: , ,


Cerita China dan sejarah China pada zaman dinasti kaya akan sumber informasi tentang keluarga pada masyarakat China yang pada saat itu terdapat perbedaan antara kelas atas dan kelas menengah dalam masyarakat China. Pada zaman feudal terdapat perbedaan status antara keluarga kerajaan, tokoh terkemuka, dan masyarakat biasa (para petani). Akan tetapi setelah ajaran Konfusius berkembang, perbedaan status dalam masyarakat ini pun berubah.

                                   --------------

Sesuai dengan konsep masyarakat China, istilah keluarga atau unit keluarga dapat terjadi karena hubungan darah, perkawinan, serta untuk medapatkan harta kekayaan. Didalam keluarga terdiri dari orang tua dan anak, saudara dan kerabat dekat yang masih satu marga (sanak famili). Keluarga, sanak famili, dan marga adalah tiga lingkaran konsentris dalam keluarga. Ada tiga tipe variasi dalam keluarga yang dapat dibedakan yaitu:

Á   Keluarga dari hubungan perkawinan, dapat juga disebut keluarga dari hubungan biologis, alami, dan keluarga kecil, yang terdiri dari, suami, istri, dan anak. Selain itu contoh yang termasuk dalam keluarga ini adalah paman, bibi, keponakan, kakak atau abang yang belum menikah.

Á      Keluarga pokok atau keluarga inti, yang terdiri dari suami, istri, anak yang tidak menikah, dan seorang anak laki-laki yang menikah dengan istri dan anak. Ketika hanya seorang dari salah satu orang tua yang masih hidup maka ia akan tinggal dengan anak laki-laki yang tidak mempunyai anak.

Á      Gabungan keluarga atau yang disebut juga keluarga besar, terdiri dari orang tua, anak yang belum menikah,anak laki-laki yang sudah menikah (lebih dari satu), istri dan anak. Terkadang tipe dari keluarga ini mencapai empat sampai lima generasi. Kepala keluarga dalam keluarga tipe ini adalah ayah dari anak laki-laki yang sudah menikah.

Keluarga pokok atau keluarga inti dapat digambarkan sebagai sebuah pembesaran keluarga (memperbanyak keluarga) atau mengurangi jumlah keluarga besar. Dalam masyarakat China jarang sekali keluarga inti untuk mengurangi jumlah keluarga besar, melainkan untuk memperbanyak jumlah keluarga.

Saat berakhirnya zaman feodalisme Dinasti Chin memaksa para petani untuk hidup dalam keluarga dari hubungan perkawinan. Langkah ini digunakan pemerintahan Dinasti Chin untuk melemahkan pengaruh keluarga bangsawan dalam masa Dinasti yang baru. Saat ajaran Konfusius berkembang pada zaman feodalisme ke birokratis, ajaran ini tidak terlalu membahas tentang keluarga besar melainkan cara untuk menjalin hubungan baik antar sesama, misalnya hubungan antara ayah dan anak laki-laki, suami dan istri, kakak dan adik.

Selain itu pada zaman Dinasti Han setiap rumah tangga dikenakan wajib pajak. Wajib pajak ini meliputi seluruh keluarga dalam masyarakat China, bayi tidak termasuk dalam hitungan pajak dan biasanya dalam setiap keluarga tidak melebihi enam sampai delapan orang. Ini adalah ukuran rata-rata dari setiap satu keluarga dari hubungan perkawinan atau keluarga inti.